Tentang Komunikasi dan Kepemimpinan (Note FB, 1 Mei 2010)
Jan 1st, 2012 by lukito
Beberapa hari ini saya bertemu dengan para alumni JTETI dalam berbagai forum: dari munas Katgama di Jakarta sampai diskusi santai di kantor PT Chevron Pacific Indonesia di Rumbai, Pekanbaru. Kami mendiskusikan banyak hal, salah satunya adalah mencari masukan tentang bekal yang sebaiknya diberikan untuk para mahasiswa dalam meniti karir mereka setelah lulus.
Tentang kemampuan intelektualitas, saya dan para alumni sepakat bahwa mahasiswa JTETI termasuk “top of the cream”. Pintar dan smart. Technology-savvy. No worries about that. Di perusahaan-perusahaan, kecerdasan alumni JTETI diakui bahkan tidak kalah dibandingkan lulusan PT besar lainnya.
Yang menarik adalah bahwa menurut para alumni, yang perlu dikembangkan dari lulusan kita adalah soft skill-nya. Para alumni menyebut, ada dua hal yg penting: komunikasi dan kepemimpinan. Ketrampilan berkomunikasi penting karena pada umumnya pekerjaan diselesaikan secara kerja tim. Seseorang harus bisa menyampaikan idenya, meyakinkan orang lain, berargumentasi, atau berdebat secara sehat. Pintar tapi tidak bisa menunjukkan kepandaiannya juga kurang bermanfaat, karena pada dasarnya di perusahaan berlaku kompetisi: siapa yg terlihat menonjol (dalam hal positif tentu saja), dialah yang terpilih.
Pandai berkomunikasi tidak harus selalu identik dengan kehilangan sopan santun. Teman-teman di Chevron mengatakan, lulusan UGM dikenal masih punya “unggah-ungguh” atau sopan santun. Hormat pada yg lebih senior, care terhadap yang muda, dan sopan dalam berbicara. Pertahankan itu, karena itu adalah nilai-nilai universal yg menunjukkan keberadaban kita.
Yang kedua adalah leadership. Faktor ini penting karena seorang lulusan S1 ke atas pada akhirnya nanti akan memimpin tim dan bahkan menduduki posisi management. Kepemimpinan adalah sesuatu yg sama sekali berbeda dari pekerjaan-pekerjaan teknis. Kepemimpinan berurusan dengan manusia, organisasi, dan segala sesuatu yg terkait dengannya. Seorang pemimpin hanya punya satu tujuan: bagaimana unit/tim/lembaga yg dipimpinnya bisa maju dan mencapai tujuannya. Dia harus punya karakter yang kuat dan teguh tetapi bijak, memiliki kemampuan empowering timnya, dan keberanian untuk mengambil resiko.
Di Chevron dan berbagai perusahaan besar lainnya, saat ini yg lebih dipentingkan adalah leadership value, ketimbang technical skills. Konkritnya, Chevron lebih menghargai SDM yang bisa memimpin dengan baik. Bahkan pada level teknispun SDM mereka lebih diarahkan utk bisa menghandle problem dan tugas dengan baik. Kebutuhan-kebutuhan teknis (mis: pengembangan aplikasi, perawatan komputer, dsb) secarang lebih banyak dioutsourcekan daripada dikerjakan sendiri.
Nah para mahasiswa, siapkan diri anda dengan baik…Pupuklah communication and leadership skills anda. The world is changing, and it requires something different from you… Good luck :)