Saya lanjutkan cerita dari Temu Alumni tanggal 3 Juli 2010 yang lalu. Masih ada beberapa hal yang menarik dari presentasi mas Attah. Kali ini yang ingin saya sampaikan adalah temuan tentang lulusan dari Indonesia (tidak hanya UGM saja) yang bekerja di Schlumberger worldwide. Mas Attah punya data ini karena beliau pernah malang melintang mengurusi SDM Schlumberger di beberapa negara.
Oke, saya mulai saja. Pertama, mengapa lulusan dari Indonesia yg bekerja di Schlumberger quit? Ada banyak penyebab. Faktor non-performance (prestasi tidak memenuhi) kira-kira mencapai 20%. But guess what..penyebab utama mereka meninggalkan perusahaan itu adalah…LIFESTYLE! Ya..lifestyle mereka tidak cocok dengan lingkungan perusahaan minyak tsb. Mas Attah mencontohkan, ada yg quit karena tidak kuat menahan rindu utk makan supermi selama berada di lapangan. Atau ada yang tidak betah karena tidak bisa kumpul-kumpul dengan sesama orang Indonesia, atau tidak bisa lepas dari prinsip alon-alon waton kelakon ala Jogja, dan banyak lagi. Hmm…menarik juga, karena lifestyle itu bawaan, dan ternyata lifestyle kita tidak kompatibel dengan lingkungan kerja global, serta susahnya lagi, kemampuan adaptasi kita rendah.. :-)
Sisi menarik lainnya adalah tentang performance factor. Orang Indonesia unggul di bidang teamwork, hubungan dengan rekan kerja (harmonis, tidak suka konflik, dsb), pencapaian sasaran (kalau diberi tugas, kebanyakan bisa berhasil baik), dan energy level (semangatnya tinggi). Kelemahan kita di bidang-bidang yang justru dominan di manajemen, misalnya: komunikasi (lisan dan tulis), pengambilan keputusan (membuat keputusan berkualitas yang efektif), risk taking (ingin main aman saja), control of costs (kurang bisa menggunakan anggaran dengan bijak), dan ability to work under pressure (mudah menyerah dalam kondisi tertekan).
Bagi perusahaan, tiap kelemahan harus diperbaiki. Normalnya, seorang karyawan bisa menjalankan tugas-tugas manajemen setelah bekerja kira-kira 10-11 tahun. Setelah masa itu, dia semestinya bisa mengambil keputusan non-teknis dan di luar pola yang umum. Problemnya, perusahaan tidak bisa menunggu selama itu untuk memperoleh karyawan yang mumpuni. Yang dilakukan kemudian adalah mengadakan “accelerated development”. Kompetensi karyawan ditingkatkan secara spartan dan terakselerasi, sehingga buahnya bisa dipetik hanya dalam waktu 5-6 tahun saja. Jadi yang sekarang diperlukan bukanlah lulusan yang siap dilatih, tetapi mereka yang siap untuk diakselerasi pengembangan kompetensi personalnya.
Begitulah cerita tambahan dari Temu Alumni kemarin. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kemarin JTETI dan para alumni sepakat untuk membuat program-program pengembangan kompetensi bagi mahasiswa. Program ini akan memperkaya (enrich) proses-proses pembelajaran formal yang dijalani mahasiswa. Kegiatan-kegiatan ini nanti akan diorganisir oleh KMTE dalam format ekstrakurikuler. Mirip dengan pelatihan-pelatihan yang selama ini diselenggarakan oleh KMTE. Tidak wajib, tapi recommended untuk diikuti.
Yang menggembirakan adalah kesediaan alumni untuk menjadi coach dan mentor dalam kegiatan-kegiatan ini. Jadi misalnya nanti kalau JTETI menyelenggarakan program pelatihan public speaking, leadership, time management, communication skill, atau entrepreneurship, para alumni yang punya kompetensi di masing-masing bidang akan menjadi mentor. Harapannya, dengan pengayaan ini nanti mahasiswa bisa lebih siap dalam memasuki dunia kerja, khususnya di industri.
Bagaimana para mahasiswa, apakah kalian setuju? Yang diperlukan sederhana saja: keseriusan dalam mengikutinya. For your own interest. Kita semua berharap kalian punya kualitas pribadi yg seyogyanya dimiliki oleh seorang lulusan PT sbb:
- Moral dan integritas terjaga
- Kompetensi keilmuan yang kokoh
- Kematangan pribadi
- Kepemimpinan
- Kemampuan berkomunikasi
- Kemampuan penanganan dan penyelesaian problem
- Kemampuan kerjasama tim
- Motivasi internal tinggi