Aku dan Si Genduk (Note FB, 17 Mei 2011)
Jan 1st, 2012 by lukito
Pada suatu malam cerah bertabur bintang, aku duduk sendirian di beranda menikmati dinginnya hawa yang ditingkahi oleh suara serangga-serangga malam. Aku suka dengan suasana ini karena bisa membuatku tenang dan berkontemplasi, merenung, dan mencari jawaban dari berbagai pertanyaan tentang kehidupan. Aku bersyukur masih bisa melakukannya, karena belakangan ini aku didera berbagai problem yang begitu berat: beberapa bulan lalu di-PHK dari perusahaan dan sampai detik ini belum bisa mencari pekerjaan kembali, dan ditambah lagi penyakit maag akutku sering kambuh karena stress yang berkepanjangan. Kehidupan ekonomi keluargapun mulai goncang, karena pada dasarnya aku bukan berasal dari kaum berada dan posisiku di perusahaanpun bukanlah posisi yang bisa menghasilkan kelimpahan materi.
Aku merasa bebanku begitu berat karena tabunganku sudah kosong. Tidak ada sumber penghasilan yang bisa diandalkan. Moral dan semangatku semakin turun. Dan hari-hari ini adalah hari-hari yang berat karena aku harus mengambil keputusan tentang sekolah si sulung kami. Si Genduk, demikian dia biasa disapa, memang bersekolah di sebuah PTN terkenal di kota besar. Himpitan ekonomi memaksaku untuk mempertanyakan keberlanjutan kuliah si Genduk yang memang memerlukan biaya besar. Dan malam ini adalah saatnya, karena kebetulan dia sedang pulang ke rumah dalam rangka liburan semester.
Kali ini kesunyian malam tidak mampu menyembunyikan kegelisahanku. Samar-samar kudengar Bohemian Rhapsody-nya Queen dari kamar si Tole, anak kedua, saat kupanggil si Genduk.
“ Genduk, ke sinilah sebentar. Bapak mau bicara…”
“Ada apa pak?”, sahutnya sambil menghampiriku. Wajahnya terlihat gembira.
Hatiku semakin tercabik-cabik melihat keceriaannya. Bohemian Rhapsody serasa pisau yang menyayat hatiku. Tidak tega rasanya menyampaikan problemku kepadanya. Tidak tega karena sebenarnya anak-anakku tidak boleh terpengaruh oleh problem tersebut. Tapi saat ini akupun tidak berdaya lagi dalam membentengi mereka dari problem finansial yang melanda keluargaku ini.
“Nduk, bapak pengin cerita panjang, tapi kamu jangan kaget ya”, kataku sambil menatap tajam wajahnya.
“Ada apa sih pak, kok kayaknya serius banget. Bapak jangan lebay gitu ah..”, katanya sambil tertawa lepas.
Ah, Nduk…andaikan saja engkau tahu perasaan bapak saat ini. Dengan menguatkan hati, mulailah kuceritakan tentang kemunduran perusahaan tempatku bekerja. Kuceritakan pula bagaimana pula akhirnya aku dan banyak karyawan lain di-PHK. Lalu kulanjutkan kisahku tentang usaha demi usaha untuk mendapatkan pekerjaan, yang semuanya gagal total. Dan akhirnya kusampaikan problem finansial yang melanda keluargaku.
Wajah cerianya mulai menghilang, digantikan oleh wajah tegang dan sedikit cemas.
“Lalu…apa maksud bapak mengajakku bicara malam ini?”, sergahnya.
“Bapak tidak bisa lagi membiayai kuliahmu, Nduk…”
Dan tiba-tiba kulihat butiran air di matanya. Dia menunduk, diam membisu. Matakupun basah. Kami berdua terdiam sesaat. Lagu Bohemian Rhapsody terdengar seperti pisau tajam yang menyayat hatiku.
“Bapak inginnya aku harus gimana?”, kata-kata lirihnya memecah keheningan.
“Bapak justru ingin dengar bagaimana pendapatmu”, begitu jawabku.
Dan terjadilah sebuah percakapan yang sangat emosional. Ya Tuhan, berikanlah aku kekuatan agar aku tetap bisa tenang, berpikir jernih, dan menguatkan anakku ini.
“Bapak tahu kan, kenapa aku memaksa untuk meneruskan kuliah? Aku ingin jadi orang yg berilmu pak. Aku ingin bisa bersekolah di luar negeri, belajar banyak hal, agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Bukankah ini yang selalu bapak katakan kepadaku? Menjadi orang yang berguna bagi sekitarnya. Menjadi rahmatan lil alamin…Dan aku sudah memutuskan, pak. Jalanku adalah dengan belajar setinggi mungkin, agar nanti ilmuku ini bisa kubagikan kepada orang-orang di sekelilingku..”
“Tapi sekarang mimpi itu pecah berantakan…Apa yang bisa kuharapkan jika aku tidak bisa melanjutkan kuliahku?? Apa yang bisa kulakukan kelak??”, lanjutnya sambil menangis sesenggukan.
“Nduk, bapak tidak bilang kalau kamu harus berhenti sekolah. Bapak cuma bilang kalau mulai saat ini bapak tidak bisa mengirimi kamu uang untuk kuliah..”
“Sama saja pak. Itu kan artinya menyuruh Genduk berhenti kuliah. Bagaimana aku harus membayar SPP dan biaya hidup??”, dia memotong dengan cepat. Ada nada emosi dan kemarahan dalam kata-katanya.
Dia melanjutkan lagi,”Pak…kenapa selalu aku yang mengalami problem? Kenapa bukan si Tole? Bapak ingat kan, saat aku kecil, bapak dan ibu selalu memaksaku untuk mengurusi si Tole, untuk belajar melakukan tugas-tugas rumah, dan seabreg tugas lainnya. Sekarang saat bapak punya problem, aku lagi yang dikorbankan…It’s not fair, pak…”
“Tuhan juga tidak sayang padaku…Tiap hari aku berdoa, bermohon agar cita-citaku bisa terkabul. Apa kurangnya dengan cita-citaku itu? Bukankah tujuannya juga untuk kemanfaatan orang banyak? Mengapa Tuhan tidak mendengar doaku?”
Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Alhamdulillah, the sense of being a father pun muncul dalam diriku, memberiku energi untuk menghiburnya dan memberinya semangat.
“Jangan menyalahkan Tuhan, Nduk. Kamu yakin bahwa Tuhan itu Mahapenyayang kan? Bahwa Tuhan itu penolong yang sebaik-baiknya?”
“Iyaa pak, tapiii….”
“Yang namanya yakin itu ya yakin. 100%. Titik. Tidak ada tapi-tapian…”, sergahku.
“Tapi kenapa Tuhan memutus cita-citaku yang baik itu? Kenapa Tuhan harus memberiku problem seperti ini?”
“Nduk…Tahukah engkau, justru Tuhan itu sayang padamu. Kenapa kamu diberi-Nya problem? Karena Dia ingin agar kamu menjadi kuat. Kamu tahu berlian kan? Bahan dasar berlian itu apa?”, tanyaku.
“Karbon pak. Kenapa memangnya?”
“Karbon itu zat yang tidak berharga bukan? Tapi karbon yang mengalami tekanan dan suhu luar biasa akhirnya berubah menjadi berlian. Itulah yang dikehendaki Tuhan terhadapmu, Nduk… Tuhan ingin agar engkau menjadi manusia yang indah dan kuat, dan dengan kekuatan dan keindahan anugrah-Nya itulah kelak kamu akan membawa dunia menjadi lebih baik lagi…”
Dia masih ragu-ragu. “Tapi aku takut pak…aku takut gagal menghadapi problem-problemku…”
“Nduk, kamu yakin kepada Tuhan kan? Dan mestinya kamu juga pernah mendengar kata-kata-Nya bahwa Dia tidak akan mencoba umatnya melebihi kemampuan umat itu…”, aku mencoba meyakinkannya.
Dia diam, kelihatan masih bimbang, tapi tangisnya sudah berhenti. “Aku membayangkan hidupku ke depan akan sulit sekali pak. Aku tidak ingin berhenti sekolah hanya karena bapak tidak mampu membiayaiku. Tapi aku belum tahu harus berbuat apa, pak…”
“Memang jalanmu akan sulit, Nduk, sama dengan bapak dan kita semua. Tapi ayolah…it’s not the end of the world…Coba lihat di sekelilingmu..Berapa banyak anak-anak seusiamu yang juga punya cita-cita tinggi tapi benar-benar tidak mampu mewujudkannya? Berapa banyak di antara mereka yang putus di tengah jalan? Sementara kita, alhamdulillah masih diberi banyak rizki dan kenikmatan. Kamu pintar, IPmu bagus. Kamu bisa mencari beasiswa atau cari kerja part time. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan…Yang penting, marilah kita tetap bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan, termasuk problem ini…”
Dan lanjutku, “Cobalah lihat dari masa lalumu sampai hari ini, dari masa kecilmu sampai kamu kuliah sekarang ini…Bagian mana dalam hidupmu yang tidak berada dalam lindungan dan limpahan rahmat-Nya?”
Tiba-tiba dia mengangkat mukanya dan menatapku sambil berkata,”Bersyukurlah kepada Tuhanmu, niscaya Tuhanmu akan menambah nikmat-Nya…”. Dan dia mengatakan kalimat itu sambil tersenyum…
Dan tiba-tiba lagu It’s My Life-nya Bon Jovi dari kamarnya si Tole seolah menyuntikkan semangat kami berdua. Tiada kata yang terucap dariku atau si Genduk, tapi saling pengertian itu sudah terbangun…Alhamdulillah.
(17 Mei 2011 — cerita ini didedikasikan untuk siapapun yang sedang mengalami problem, kecemasan, ketakutan, dan merasa tidak ada harapan lagi.. Yakinlah bahwa harapan itu masih ada. Problem itu adalah latihan untuk membuat kita kuat.. Semoga bermanfaat..)