Persiapan
Apr 6th, 2008 by Lukito Nugroho
Banyak orang menganggap studi S3 sebagai “just another step” setelah jenjang S2. Anggapan ini tidak salah, tetapi yang sering kurang dipahami adalah karakteristik studi S3 yang berbeda dibandingkan S2. Program S3 menekankan pada penelitian secara mandiri, dengan tuntutan menghasilkan kontribusi yang orisinal dan novel (baru). Tujuan ini jelas memerlukan persiapan yang cukup. Berikut ini aspek-aspek yang perlu dipersiapkan dalam menempuh studi S3.
Mental. Di Indonesia, hampir semua program S2 memiliki komposisi kuliah yang jauh lebih besar daripada riset. Dari sekitar 40 SKS beban studi, komponen penelitian (kuliah metodologi penelitian, studi mandiri, seminar, dan tesis) hanya sekitar 25%-nya saja. Belum lagi proses penelitian di S2 sering kali dijalankan secara seadanya. Hal ini menyebabkan mental image mahasiswa S2 lebih berorientasi pada perkuliahan dibandingkan pada riset. Pada saat mereka mengetahui karakteristik program S3 yang sangat berorientasi riset, ada semacam mental shock karena harus mengubah paradigma yang ada. Agar kejutan mental ini tidak terjadi, calon mahasiswa perlu memahami sedini mungkin karakteristik program S3 dengan cara melakukan eksplorasi awal sebelum mendaftar. Banyak sumber yang bisa diacu, misalnya melalui artikel-artikel di Internet (coba keywords: how to be a PhD student), membaca buku-buku tentang penelitian S3, atau bertanya ke dosen yang sering membimbing mahasiswa S3.
Selain itu, persiapan mental juga diperlukan karena studi S3 memerlukan konsentrasi penuh. Riset S3 tidak bisa “diduakan”, dikerjakan secara sambilan. Hal ini perlu dilakukan terutama oleh calon mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi di tempat dia mengajar. Dalam banyak kasus, sering kali mahasiswa S3 yang belajar di perguruan tingginya sendiri masih diminta untuk mengajar atau membantu dalam kegiatan-kegiatan lain. Idealnya, seorang mahasiswa S3 jangan mengerjakan kegiatan-kegiatan lain selain studi S3nya.
Persiapan mental tidak hanya berlaku untuk calon mahasiswa. Keluarga calon mahasiswa juga perlu melakukan hal yang sama, terutama jika studi S3 dilakukan di luar kota atau luar negeri. Selama kira-kira 3 tahun, keluarga harus bersiap tidak bisa mendapatkan perhatian penuh dari mahasiswa S3.
Ketrampilan meneliti. Seharusnya lulusan S2 sudah memiliki ketrampilan meneliti yang mencukupi untuk melaksanakan penelitian S3. Pada saat menyiapkan proposal awal untuk mendaftar, calon mahasiswa mestinya sudah mahir dalam menentukan topik penelitian, menjelaskan relevansi dan pentingnya topik yang akan diteliti, mencari sumber-sumber pustaka, melakukan kajian pustaka, dan merancang penelitian. Jika skill dasar ini belum dikuasai, sebaiknya mahasiswa menyiapkannya pada saat-saat awal studi. Biasanya setelah dinyatakan diterima, calon mahasiswa doktor diminta untuk memperbaiki proposalnya. Inilah saat yang tepat untuk mengasah ketrampilan menelitinya. Proposal dapat ditulis ulang menuruti kaidah-kaidah yang berlaku. Konsultasi dengan dosen calon promotor atau mahasiswa-mahasiswa S3 lain dapat membantu meningkatkan ketrampilan meneliti.
Biaya. Beberapa topik penelitian memerlukan biaya yang tidak sedikit. Kebutuhan dana ini perlu diantisipasi sedini mungkin melalui perencanaan penelitian yang baik. Perencanaan anggaran harus sampai pada sumber-sumber dana yang bisa diakses. Beasiswa seperti BPPS hanya menyediakan dana yang sangat terbatas untuk penelitian, jadi perlu disiapkan sumber-sumber lainnya.
Administratif. Sebelum mendaftar, perhatikan persyaratan administratif yang diminta, karena ada beberapa persyaratan tidak bisa dipenuhi dalam waktu singkat. TOEFL misalnya, testnya mungkin tidak diadakan tiap hari. Transkrip dari perguruan tinggi asal S1 dan S2 juga mungkin memerlukan waktu untuk mendapatkannya.
Pak, jika kondisinya demikian cukup menyedihkan ya, saat kita sedang berjuang untuk penelitian tetap dipusingkan mikirin biaya penelitian, sepertinya kok kontras dengan univ di luar negri ya
Saya setuju pendapat Bapak Lukito ttg perlunya sumber dana selain BPPS. Saya sbg mhs S3 penerima BPPS pernah mengalami kesulitan harus mencari penyokong dana untuk publikasi makalah lewat seminar internasional di LN dan jurnal ilmiah internasional. Dari sisi akademik, sbg mhs S3 dlm negeri, selain belajar membuat makalah untuk dipublikasikan lewat seminar dan journal ilmiah internasional, saya juga belajar membuat proposal permohonan bantuan seminar dan jurnal internasional. Kemampuan membuat proposal semacam itu mungkin hanya dilatih di beberapa universitas di Indonesia.
@adrianus inu: benar mas. Memang studi S3 itu sebenarnya multiactivities. Kita tidak hanya dituntut utk riset saja, tapi belajar juga ttg hal-hal lain yang juga sangat bermanfaat. Nikmati saja studinya dan jalani dengan baik, pasti ada manfaatnya kelak… :)