Persiapan Seleksi
Aug 14th, 2010 by lukito
Banyak universitas, Fakultas Teknik UGM khususnya, menyelenggarakan seleksi mahasiswa S3 dengan mekanisme presentasi dan wawancara. Pelamar diminta menyajikan topik penelitiannya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji yang terkait dengan materi yang dipresentasikan. Tujuan dari mode seleksi ini sebenarnya sederhana: 1) mengevaluasi apakah topik yang diajukan berpotensi untuk dijadikan topik riset S2, dan 2) mengkonfirmasi apakah calon mahasiswa memang memiliki kapabilitas dalam menjalankan riset dengan topik tersebut.
Ada beberapa hal yang penting diperhatikan agar presentasi dan wawancara dapat berlangsung lancar dan memberikan hasil positif. Pertama, tentu saja topik riset harus disiapkan dengan sebaik-baiknya. Memang pada saat seleksi, topik riset belum harus fixed, tetapi yang penting adalah calon mahasiswa S3 harus bisa menunjukkan bahwa topik yg dipilihnya feasible untuk diangkat menjadi topik riset. Feasible artinya layak secara akademis. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Apakah topik tersebut dirumuskan berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku (contoh: dibangun berdasarkan fakta dan argumentasi yang valid, bukan atas dasar asumsi dan penilaian subyektif atau sempit).
- Apakah topik tersebut berpotensi untuk melahirkan temuan/inovasi/kebaruan dalam bidangnya. Sekali lagi, kebaruan pada level S3 haruslah cukup signifikan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, bukan hanya pada tataran superfisial (aplikatif) saja.
- Apakah riset tentang topik tersebut dapat dijalankan dalam kekangan waktu, biaya, dan sumber daya lain yg tersedia. Bagaimanapun riset S3 bukanlah riset untuk menghasilkan pemenang hadiah Nobel. Riset S3 hanya untuk melatih agar mahasiswa dapat menjalankan penelitian dengan baik dan benar. Dalam konteks ini, sering kali ada kekangan yang tidak bisa dilanggar.
Untuk menyiapkan topik yg baik, perlu pemahaman yang baik tentang domain riset. Tidak ada cara lain kecuali banyak membaca dan belajar tentang substansi dalam bidang ini. Banyaklah membaca artikel-artikel jurnal atau seminar (internasional). Pahami benar tentang isi tulisan-tulisan tersebut. Perkuatlah pula teori-teori dasar melalui textbook.
Kedua, belajarlah membiasakan diri berpikir secara logis, terstruktur, dan obyektif dalam membangun argumentasi. Pemahaman dan pengetahuan yg luas tidak akan berguna tanpa kemampuan merangkainya menjadi argumentasi yang kuat. Memang ketrampilan ini tidak bisa dikuasai dalam semalam saja, tapi bisa dibentuk melalui latihan berpikir dengan benar secara kontinyu. Saat studi S1 dan S2 adalah waktu yang tepat untuk melatih kemampuan ini.
Yang ketiga adalah kemampuan menuangkan pemikiran dalam sebuah naskah proposal. Proposal riset adalah sebuah dokumen ilmiah, jadi penulisannya juga harus mengikuti kaidah-kaidah penulisan yang umum berlaku di dunia akademik. Ikuti format standar yang biasanya sudah ada dalam buku panduan penulisan proposal, dan gunakan gaya penulisan yang membuat isi dari bagian-bagian dalam proposal tersebut dapat mengalir dengan lancar. Ingat bahwa naskah proposal ini adalah “sarana pertemuan pertama” dengan dosen penguji, sehingga sangat penting untuk bisa memenangkan kesan positif.
Keempat adalah kemampuan dalam menyajikan pemikiran, baik secara visual maupun oral. Presentasi visual sangat penting untuk membantu membuat dosen penguji memahami pemikiran-pemikiran yang disampaikan. Gunakan teknik-teknik presentasi visual, misalnya memanfaatkan PowerPoint, secara maksimal. Banyak tips-and-tricks penyusunan slide-slide presentasi yang bisa dimanfaatkan. Selain visual, presentasi oral juga penting. Ucapan yang jelas, runtut, dan disampaikan dalam intonasi yang pas dapat memberikan impresi yang baik.