Manajemen Waktu dan Fokus
Feb 8th, 2009 by lukito
Pengalaman membimbing mahasiswa S3 membawa saya pada keyakinan bahwa studi S3 di Indonesia tidak bisa dilakukan secara part-time. Di luar negeri mungkin bisa, tetapi di negeri kita rasanya hal itu sulit sekali dilakukan. Penyebabnya adalah kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam re-focusing ke penelitiannya jika ia harus bolak-balik berganti perhatian, dari penelitiannya ke kegiatan lainnya (misalnya, pekerjaan di kantor). Di luar negeri, sarana yang tersedia cukup lengkap, sehingga re-focusing bisa dilakukan dengan cepat. Saat berada dikantorpun seorang mahasiswa S3 bisa mengakses koleksi perpustakaan universitasnya, berkomunikasi live dengan pembimbingnya, atau bahkan menjalankan eksperimennya secara remote. Di Indonesia, jangan berharap semua kemudahan itu diperoleh, sehingga mahasiswa perlu waktu yang lebih lama untuk kembali ke fokus penelitiannya. Jika hal ini dilakukan berulang-ulang dalam periode yang lama, saya khawatir mahasiswa tidak punya cukup energi untuk bertahan.
Dengan argumen yang sama, maka mahasiswa S3 full-time-pun harus berusaha agar fokus ke studinya tidak bergeser. Hal ini penting karena pada umumnya mahasiswa S3 di Indonesia statusnya adalah pekerja dan mereka tidak 100% dibebaskan dari tugas-tugas rutin. Persoalan lain adalah, dan ini lebih sulit untuk ditanggulangi, kenyataan bahwa para mahasiswa S3 sering menghadapi problem kecukupan finansial, sehingga mereka harus menyisihkan sebagian waktu untuk menutupi kebutuhan tersebut.
Di sisi lain, penelitian S3 bukanlah kegiatan yang bisa dilakukan secara sambilan. Proses analisis dan sintesis yang terjadi di dalamnya berlangsung secara intensif dan berkelanjutan, untuk membangun dan menemukan kebaruan (novelty) yang dipersyaratkan.
Dengan dua ekstrem yang harus diakomodasi tersebut, mahasiswa S3 harus pandai mengelola waktu dan fokus perhatian. Pengelolaan waktu bertujuan memanfaatkan alokasi waktu yang tersedia seefektif dan seefisien mungkin. Dalam 3 tahun masa studi, mahasiswa harus bisa membagi waktunya untuk bisa mencapai milestones sbb:
- Masa persiapan (semester 1 dan 2)
- Menyelesaikan perkuliahan
- Melakukan studi pustaka
- Menajamkan topik penelitian
- Memperbaiki proposal penelitian
- Ujian komprehensif (akhir semester 2)
- Pelaksanaan penelitian (semester 3 dan 4)
- Melaksanakan eksperimen
- Menganalisis hasil
- Menulis publikasi ilmiah
- Seminar hasil I (antara semester 4-5)
- Presentasi hasil
- Melengkapi dan menyelesaikan eksperimen
- Menulis publikasi ilmiah
- Mulai mempersiapkan disertasi
- Seminar hasil II (awal semester 6)
- Presentasi hasil akhir
- Menulis publikasi ilmiah
- Menulis disertasi
- Ujian tertutup (menjelang akhir semester 6)
- Ujian terbuka (akhir semester 6)
Rangkaian tahapan di atas membentuk sebuah proses yang kontinyu, yang tidak boleh putus di tengah jalan. Proses tersebut dapat putus karena fokus perhatian yang bergeser, baik disengaja (on purpose) atau tidak (karena dimakan waktu). Beberapa mahasiswa putus fokusnya karena tidak bisa menghindar dari tugas mengajar di kampus asal, harus bekerja ekstra untuk menambah penghasilan, sakit dalam waktu yang cukup lama, atau sebab-sebab lainnya. Yang jelas, pemutusan paksa akan mengakibatkan rusaknya kontinuitas, dan ini akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya, karena mahasiswa harus mengumpulkan kembali potongan-potongan pengetahuan yang dulu pernah diperolehnya, kemudian menyusunnya kembali menjadi bentuk yang lebih utuh. Semakin lama putus fokusnya, semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk menyambung kembali.
Menurut pengalaman saya, re-focusing adalah kegiatan yang time-consuming, stressful, dan wasting time. Sedapat mungkin hindarilah hal ini, dengan merencakanan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Saat mempersiapkan diri untuk mengikuti program S3, perhitungkan segala kemungkinan dan persiapkan way-out jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Persiapan yang baik dapat meminimalkan re-focusing yang tidak perlu.
Luar biasa, semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh calon mahasiswa S 3. Khususnya bagi mereka yang ingin, sedang, terlanjur menempuh jenjang ini. Thank
“Terlalu sering peluang dan kesempatan datang mengetuk, tapi saat itu kita sibuk melepas rantai, melepas gembok, membuka kunci dan mematikan alarm, hingga saat itu sudah terlambat”
Terima kasih atas semua penjelasan yang bapak tulis dalam artikel ini, semoga saya dan teman-teman baik yang sedang melaksanakan kuliah S3 atau pun yang belum dapat meningkatkan semangat dan motivasinya untuk menyelesaikan masa studinya.
Assalamualikum.
Terima kasih atas pencerahan yang diberikan. Tulisan ini memberikan inspirasi bagi saya untuk segera mendaftar S3. Matur Nuwun.
Wassalam.
Saya setuju dengan pendapat Bapak, yang menyatakan S3 itu hendaknya fulltime
Terima kasih pa atas pencerahannya yang menyegarkan, sehingga saya mantap untuk mempersiapkan S3-nya.
Matur nuwun
Saya tertarik dengan istilah re-focusing yang bapak sampaikan. Memang melakukan beberapa pekerjaan paralel, tidak serta merta kita dapat merubah-rubah fokus atau perhatian secara cepat. Saat berganti fokus otak kita memerlukan jeda waktu untuk mencerna perhatian baru. Saya memakai istilah ‘pemanasan’ sebagai padanan refocusing yang bapak gunakan.
Memang refocusing ini memakan waktu yang berharga, Dan saya sepakat ada baiknya kita benar benar focus dalam menyelesaikan penelitian.
Luar biasa..sungguh pencerahan yang sangat berguna khususnya bagi kami yang sedang prepare untuk S3. Terimakasih atas infromasi, saran dan tips yang bapak tulis.
Terimakasih atas penjelasannya, saya kira ini sangat bermanfaat bagi saya dan juga teman-teman yang akan studi S3.