Memilih Topik Riset
Apr 6th, 2008 by Lukito Nugroho
Penentuan topik penelitian adalah salah satu “hantu” bagi calon mahasiswa S3. Pertanyaan yang sering muncul adalah: “Apakah Bapak punya topik penelitian S3 yang bisa saya kerjakan ?”, “Dari mana saya mulai mencari topik yang cocok ?”, “Apakah usulan topik saya ini layak untuk diangkat menjadi penelitian S3 ?”, dan sebagainya. Banyak juga calon mahasiswa yang datang dengan sebuah usulan topik, tetapi usulan penelitian ini sama sekali tidak layak untuk diangkat menjadi penelitian S3.
Menentukan topik penelitian S3 jelas tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Persyaratan orisinalitas dan novelty (kebaruan) adalah penyebabnya. Untuk menentukan apakah sebuah usulan topik bisa memenuhi unsur orisinalitas dan kebaruan tentu saja perlu pembuktian. Caranya adalah dengan mengeksplorasi domain/area topik tersebut dan memindai (scanning) penelitian-penelitian lain yang berada di domain tersebut. Calon mahasiswa harus banyak membaca artikel dan karya-karya ilmiah di domain tersebut, memahaminya, dan membuat “peta” topik-topik penelitian yang bertebaran di sana. Pada akhirnya dari “peta” tersebut akan dapat ditentukan apakah topik yang diusulkan memenuhi kedua unsur di atas atau tidak.
Memilih topik penelitian S3 memerlukan “bekal”. Bekalnya adalah pengetahuan tentang domain/ area penelitian. Janganlah meneliti sebuah topik jika tidak punya pengetahuan yang solid dalam bidang itu. Hal ini perlu disadari karena ada calon mahasiswa yang memilih topik hanya berdasar atas ketertarikan pada topik tersebut tetapi tidak memiliki latar belakang yang kuat tentang substansi ilmu di bidang tersebut.
Salah satu problem yang juga sering muncul adalah tingkat kedalaman topik yang diusulkan. Banyak usulan topik yang hanya menyentuh aspek implementatif saja. Penerapan teknik X untuk menyelesaikan persoalan Y. Memang topik tersebut mungkin belum pernah diteliti sebelumnya, tetapi itu belum cukup untuk diangkat sebagai sebuah topik penelitian S3. Salah satu syarat lain dari sebuah penelitian S3 adalah…”to provide a significant scientific contribution to advancement of science and technology”. Frasa “significant scientific contribution” mensyaratkan sesuatu yang bersifat cukup fundamental. Dalam konteks topik penelitian, seharusnya topik tersebut mengangkat isu-isu yang berada pada tataran konseptual atau filosofis (itu sebabnya lulusan program S3 di luar negeri disebut sebagai Doctor of Philosophy).
Saya punya pengalaman usulan topik riset untuk pendaftaran S3 ditolak oleh UGM karena dianggap tidak relevan, padahal beasiswanya sdh stanby. Yang saya sesalkan, saya tidak diberi kesempatan untuk menegosiasikan topik tersebut
@Abu Kamil: bukannya ada forum presentasi bagi calon mhs untuk menyampaikan ide-idenya?
Permisi, Pak. Mohon penjelasan. Apa hakekat dan wujud tataran konseptual atau filosofis dlm riset S3 teknik/sains?
@adrianus inu: Risetnya menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar, atau menemukan metode/cara baru. Riset tidak sekedar menggunakan teknik, metode, atau tool yang sudah ada sebelumnya (bersifat implementatif).
Trnksh atas pencerahannya, Pak. Penjelasan Bapak tsb menolong saya dpt menilai sejauh mana riset saya telah mengandung nilai filosofis tsb.