Abstraksi: Seberapa Dalam Harus Menyelam?
Jan 28th, 2012 by lukito
Salah satu problem yang banyak dijumpai oleh mahasiswa S2 dan S3 adalah menemukan pokok persoalan yang akan diselesaikan melalui riset yang akan dijalankannya. Kesulitan itu pada umumnya berupa ketidakmampuan mahasiswa dalam menemukan esensi dari problem. Hal ini terutama terjadi pada jenjang S3, di mana persoalan yang diangkat haruslah cukup mendasar sehingga risetnya nanti bisa menghasilkan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Banyak calon mahasiswa doktor yang terjebak pada persoalan-persoalan yang sifatnya superfisial. Dalam bidang TIK misalnya, banyak mahasiswa yang memikirkan tentang pengembangan sistem, aplikasi, atau arsitektur untuk menangani problem dalam satu domain tertentu. Bukan problem seperti itu yang diharapkan dari riset S3, karena itu adalah problem yang berada di ranah aplikasi, di permukaan. Mahasiswa harus bisa “menyelam” lebih dalam untuk mengidentifikasi akar permasalahannya, secara lebih konseptual dan mendasar, barulah kemudian persoalan ini yang diselesaikan melalui risetnya.
Hal “mengapung” atau “menyelam” di atas sebenarnya terkait dengan masalah abstraksi. Dalam konteks kerekayasaan, abstraksi menunjukkan hal-hal yang dianggap penting yang menjadi ciri atau karakteristik dari sebuah obyek yang menjadi perhatian. Abstraksi muncul dalam tingkatan-tingkatan, ada yang bersifat detil, ada pula yang umum. Semakin detil abstraksinya, semakin banyak ciri yang muncul. Sebaliknya abstraksi yang umum hanya mengandung ciri-ciri yang esensial saja.
Abstraksi direpresentasikan melalui model. Ada banyak cara untuk menjelaskan abstraksi, dari yang bersifat visual sampai ke matematis. Ambil contoh fenomena pertumbuhan penduduk. Seorang ahli ilmu sosial bisa menjelaskan fenomena ini secara rinci dengan menggunakan berbagai atribut sosiologis. Penjelasan semacam ini menunjukkan abstraksi yang rinci. Sebaliknya, seorang matematikawan yang pernah belajar ttg teori Malthus dengan singkat bisa menjelaskan fenomena ini dengan rumus eksponensial yang sederhana. Keduanya menjelaskan hal yang sama, tapi dengan cara dan tingkat kerincian yang berbeda.
Kemampuan untuk bisa menyerap esensi seperti yang dilakukan oleh si matematikawan di atas sangat penting dimiliki seorang mahasiswa S3. Tanpa bisa menangkap esensi, mahasiswa akan terjebak dalam riset yang superfisial saja. Persoalannya adalah, banyak yang tidak terlatih untuk melakukannya.
Menyelam ke tingkat abstraksi yang lebih dasar bisa dilakukan dari titik permukaan. Artinya, seseorang bisa memulai dari hal-hal yang terlihat, bisa diindera, atau dirasakan, lalu secara bertahap turun menuju hal-hal yang lebih mendasar. Berikut ini beberapa tips:
- Pelan-pelan, hilangkan berbagai atribut yang tidak penting. Menyelam itu berarti menerapkan filter terhadap ciri-ciri dari obyek yang sedang diperhatikan. Semakin turun, semakin halus filternya. Ciri-ciri yang tidak penting akan tersaring. Contoh: bagi seorang desainer mobil, detil kontur mobil menjadi aspek penting, tetapi bagi direktur utama pabrik mobil, hal itu bukan sesuatu yang perlu untuk diperhatikan.
- Identifikasi pola-pola yang muncul. Hal ini akan lebih mudah dilakukan jika kita melihat lebih dari satu obyek yang memiliki kemiripan ciri. Dengan membandingkan obyek-obyek tersebut, akan terlihat kesamaan dan perbedaan, dan dari situ pola-pola umum bisa diidentifikasi. Algoritma-algoritma genetika (genetic algorithms) muncul karena identifikasi terhadap pola dan perilaku mahluk hidup. Gerakan naik turun pesawat terbang menirukan pola terbang burung. Intinya, pola biasanya menunjukkan sebuah ciri mendasar.
- Lakukan langkah-langkah di atas secara iteratif. Berapa kali harus diulang? Itu tergantung kebutuhan. Prinsipnya, berhentilah saat cukup. Kapan kita merasa cukup? Yaitu saat pola atau ciri yang teramati sudah mampu memberikan penjelasan tentang obyek yang diamati, tanpa harus terdistorsi oleh informasi-informasi yang berlebihan.
Kemampuan mengidentifikasi esensi persoalan adalah bekal yang sangat berharga, tidak hanya untuk keperluan riset, tapi juga untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan di berbagai bidang. Dalam problem-solving, tanpa dibekali kemampuan ini, solusi-solusi yang muncul biasanya akan bersifat ad-hoc dan parsial. Solusi-solusi tersebut memiliki ruang lingkup yang terbatas, tidak komprehensif, atau tidak bisa diterapkan pada kondisi-kondisi yang sedikit bervariasi.
Jadi saran saya, pelajarilah skill ini selama menempuh program sekolah, karena manfaatnya akan berlaku selama hidup anda. Ingatlah bahwa studi S3 itu bukan hanya persoalan mendapat gelar. Banyak skill yang bisa dipelajari untuk bekal menghadapi tahapan hidup selanjutnya.
setuju pak… masalahnya ‘orang kita’ kurang sabaran dan sering melihat riset aplikasi lebih ‘wah’ dibandingkan riset fundamental termasuk para sponsor & donatur yg kadang lebih mudah mengucurkan dana riset utk aplikasi… padahal letak originalitas itu biasanya cukup jauh dr riset aplikasi… smg tulisan pak lukito di atas membuka paradigma orang2 kita..
Terimakasih tulisannya Pak LEN, ini salah satu motivasi dan penyemangat bagi para calon DOKTOR termasuk saya sendiri.
Mantabsss pak.
rasanya tulisan ini tidak hanya perlu dibaca oleh mhs S2 & S3 saja, tetapi juga utk pembimbingnya … :)
@mas SHR: itu dilemma buat kita yg hidup di negara yg belum peduli dng riset sehingga dana & fasilitas menjadi terabaikan. Dlm kondisi spt ini, yg paling mudah ya riset di tataran aplikasi. Meskipun demikian, riset pada domain aplikasi tertentupun juga bermanfaat dan bisa menghasilkan temuan-temuan yg scientifically significant dan bisa diangkat utk riset S3.
Jadi merasa banyak tersindir Pak. Terima kasih banyak Pak atas pembekalannya, semoga bisa lebih siap dalam mencoba menyelami lautan penelitian S2 dan S3 nanti. Kadang memang kami lebih sering terlalu fokus membahas kontur2 kecil mobil, hingga debat panjang ttg berapa centi lokasi gas harus diletakkan. padahal kami harusnya lebih memikirkan gambaran besar dari mobili tersebut.
two thumbs up Pak..
Membaca tulisan Pak LEN bikin saya menjadi bungkam. Speaklessssss. Tersadar lagi bahwa bukan gelar doktoral yang semata-mata menjadi tujuan.
Trims…. tetapi ketika mengingat persoalan waktu yang mengejar dan dana yang harus dipersiapkan (sedangkan beasiswa telah habis hehehe), mungkin menyelam saya bisa sampai dalam Pak. Saya harus cepat-cepat berenang lagi ke permukaan tanpa punya banyak waktu lagi menikmati indahnya kedalaman lautan… hikhikhik.
Sukses selalu untuk Pak LEN
@Nasikun: kalau di jenjang S1 memang bermainnya masih di permukaan. Tidak berarti hal ini jelek lho, karena dengan bermain di permukaan bisa menjadikan kita paham tentang fenomena, perilaku, atau gejala dari sebuah sistem. Nah, baru setelah S2 dan S3, proses “menyelam” itu perlu dilakukan…Jangan kecil hati lah..waktu anda masih panjang utk bisa menyelam.. :-)
@Iwan Suhardi: hehehe…memang begitulah romantika studi S3. It’s okay kok mas. Menyelamnya bisa diteruskan setelah selesai sekolah, toh ini adalah proses yg berkelanjutan, dijalani sepanjang hidup…good luck juga utk anda.. :-)
Hm, saat menyelam itu Pak, saya justru sering terseret arus, atau terbawa ditengah pusaran…sampai tidak tahu mau kemana. Sepertinya saya belum punya kemampuan itu, dan belum layak lanjutkan studi lagi :-)
@Non: saat menyelam memang perlu petunjuk dan guideline, dan di situlah muncul peran pembimbing.. :-)