Apa Guna Sekolah S3?
Sep 9th, 2010 by lukito
Apa Gunanya Sekolah S3?
Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Memilih Jalur Hidup”. Pada saat saya dihadapkan pada kenyataan bahwa saya harus menjalani jalur struktural, saya sempat berpikir: adakah manfaatnya saya sekolah sampai S3? Apakah ilmu tentang mobile computing yang saya tekuni selama studi S3 nanti akan bisa berguna dalam peran struktural saya? Terus terang saat itu saya merasa pesimis. Saya merasa bahwa keilmuan saya tidak akan berguna, dan sedikit banyak hal ini membuat saya kurang bersemangat atau nglokro.
Setelah cukup lama menjalankan peran manajerial di Jurusan, saya merasakan bahwa meskipun saya tidak punya latar belakang manajemen sama sekali, sepertinya peran ini bisa saya jalankan tanpa kesulitan yang berarti. Saya agak heran, mengapa demikian? Logikanya, mestinya saya akan mengalami kesulitan di sana-sini karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman manajerial.
Ternyata penyebabnya sederhana. Tugas-tugas manajerial biasanya melibatkan pengambilan keputusan dalam berbagai bentuk. Pengambilan keputusan adalah proses intelektual yang dilakukan berdasarkan data/fakta, pengalaman, dan pertimbangan-pertimbangan lain yang dirasakan perlu. Ternyata saya merasa nyaman dalam menjalankan proses yang logis ini. Tidak ada kegamangan sedikitpun. Tidaklah mengherankan, karena selama bersekolah S2 dan S3 saya dilatih untuk melakukan proses-proses yang sangat logis dalam bentuk riset. Riset adalah kegiatan ilmiah yang mendasarkan pada logika dan obyektifitas. Ada teori baru, data, argumentasi, dan kesimpulan. Semuanya dirangkai menuruti alur logika yang runtut.
Ternyata metaknowledge kemampuan berpikir logis, runtut, dan obyektif inilah yang menjadi bekal saya dalam menjalankan tugas-tugas manajerial. Secara otomatis, begitu dihadapkan pada problem, mekanisme penalaran saya langsung bekerja mengikuti pola-pola yang secara tidak sadar sudah tertanam melalui kegiatan riset selama bersekolah dulu.
Tentu saja manajemen organisasi tidak melulu bicara tentang hal-hal yang bisa dengan mudah diputuskan secara hitam-putih. Kadang saya harus melihatnya dari kacamata personal, sosial, persaudaraan, kebersamaan, dan pertimbangan-pertimbangan manusiawi lainnya. Meskipun demikian, tetap saja kerangka berpikir logis bermanfaat untuk memutuskan secara bijak. Kebijaksanaan tidak berarti tidak logis. Kebijaksanaan adalah penerapan logika yang berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu yang diambil secara sengaja, dengan argumentasi tertentu pula. Kebijakan yang diambil haruslah logis, karena kalau tidak logis akan menjadi sumber permasalahan di kemudian hari.
Jadi sekarang saya dengan mantap bisa mengatakan, tidaklah sia-sia saya sekolah S3, karena sekolah itu memberikan bekal yang sangat berharga. Bukan tentang ilmu mobile computing, tapi ketrampilan dalam berpikir logis, runtut, dan obyektif. Dengan inilah saya menjalani berbagai kegiatan saya, termasuk melaksanakan tugas-tugas manajerial.
Awal September 2010
Enlightening, tapi ada satu misteri yang sampai saat ini tidak lepas dari pikiran saya. Saya memang berpikiran bahwa sekolah S3 itu memang memberikan ketrampilan berpikir logis, runtut, dan obyektif, tetapi dalam kehidupan sering kali saya bertemu dengan orang yang tidak logis, tidak runtut, dan tidak obyektif meskipun lulusan PhD dari luar negeri dan universitas terpandang. Ada semacam karakter kuat yang telah terbentuk sejak masa kanak-kanak dan proses untuk PhD hanya sekedar proses untuk “mendapatkan gelar S3″ tanpa mempengaruhi pola pikir. Believe it or not, sering terdapat “sesuatu yang seharusnya dilakukan, bahkan seorang yang tidak berpendidikan pun bisa dengan mudah melakukan”, tetapi tidak (bisa) dilakukan seorang Ph.D. Saya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa statement “pendidikan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pola pikir seseorang” adalah area abu-abu dengan banyak variabel yang sangat misterius.
berarti S2, S3 pada prinsipnya adalah untuk pembentukan pola pikir yang lebih mendasar dalam memandang suatu persoalan? riset yang dilakukan adalah sebuah cara untuk membentuk karakter yang dimaksud. bukankah akarakter itu perbuatan yang dilakukan terus menerus dalam waktu yang relatif lama.
mohon penecerahannya pak…
maturnuwun…
Mohon maaf sebelumnya. Membaca tulisan Bapak di atas, menurut saya, berpikir logis, runtut dan obyektif mestinya sudah terbentuk pada lulusan sarjana. Lulusan doktor mestinya lebih dari itu. Mungkin perlu perenungan yang lebih dalam lagi hal apa yang berbeda dari apa yang telah Bapak dapatkan ketika lulus doktoral dibandingkan hal tersebut ketika lulus magister dan sarjana. Mungkin masih perlu perenungan tentang esensi berpikir filosofis tingkat doktoral itu seberapa dalamnya dibanding kedua tingkat sebelumnya. Sekali lagi, maaf, agak lancang. (NB. saya pernah ditugaskan membangun sistem akademik di fakultas yang baru di suatu PTN dan simpulan saya pun sama seperti yang Bapak dapatkan: harus logis, runtut dan obyektif. Sementara itu, saya lulusan magister yang baru saja lulus)
@mas BPDP: kalau ada perilaku lulusan PhD yang tidak mencerminkan cara berpikir yg logis dan runtut, ada 2 kemungkinan penyebabnya: 1) dia tidak mengikuti training risetnya dengan baik, atau 2) dia tidak mau menggunakan kemampuannya tersebut, karena satu dan lain hal.
@pak Didik, pak Inu: sebenarnya yg membentuk pola pikir itu adalah metode ilmiah yang dijalankan saat mahasiswa melakukan riset. Kalau di S1 mhs sdh menjalankan metode ilmiahnya dng baik, ya diapun sesungguhnya sudah belajar utk membentuk pola pikir yg logis, runtut, dan obyektif. Di level S2 dan S3 adalah pendalaman dan penajamannya.
Maaf Pak LEN. Boleh saya berimajinasi yang berbeda dengan Pak LEN?
Saya merasa bahwa sangat baik seorang Profesor yang berpendidikan keahlian yang langka duduk dalam lingkungan manajemen suatu instansi (sebut saja Dekan, atau Rektor) dengan pertimbangan tingkat kemampuan berlogika yang tinggi untuk menganalisis suatu persoalan sampai langkah menentukan keputusan yang sahih sesuai dengan langakah-langkah kerja yang serupa dengan hipotesis penelitian.
Namun saya sangat menyayangkannya. Kemampuan mereka itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hanya sekedar pintar berlogika. Menurut saya, kemampuan mereka akan jauh lebih mulia bila digunakan untuk mengembangkan penelitian demi kesejahteraan orang banyak atau untuk mengajar mahasiswa sehingga sampai mempunyai kemampuan setara dirinya.
Pengembangan lain, misalnya:
Seorang ahli teknologi nano menjadi Rektor. Seorang dokter ahli bedah syaraf otak menjadi pimpinan rumah sakit. dll, dll.
Namun, banyak hal yang melatarbelakanginya. Sebut satu misalnya kurangnya penghargaan jabatan fungsional dibandingkan dengan jabatan struktural.
Pendapat yang lain? Monggo saja
@mas Iwan: setuju mas…seorang doktor aslinya dilatih utk menjalankan riset-riset ilmiah di bidang ilmu tertentu. Bahwa kemudiann banyak profesor dan doktor melenceng ke dunia birokrasi universitas, itu persoalan lain, tetapi ada argumentasinya juga. Bayangkan jika sebuah universitas dipimpin oleh orang yg track recordnya memimpin perusahaan. Dari sisi manajemen mungkin oke-oke saja, tapi universitas punya nilai dan tatanan yg berbeda, sehingga ada kekhawatiran akan terjadi pergeseran-pergeseran arah jika pemimpin universitas tdk mengetahui dasar-dasar filosofis yg ada di perguruan tinggi.
Tapi menarik juga jika misalnya universitas dipimpin oleh orang yg paham ttg pendidikan tinggi, sekaligus punya track record bagus di dunia swasta. Kita blm pernah mencobanya sih.. :-)
Terimakasih sebelumnya atas tanggapan Bapak terdahulu. Selanjutnya, kalau Bapak tak keberatan, saya mohon penjelasan hal “pendalaman dan penajaman pola pikir logis, runtut dan obyektif” yg tersebut dlm pendapat Bapak tersbt. Terimakasih sebelumnya.
@adrianus inu: sebenarnya ranah akademik selalu menuntut pola pikir yg logis, runtut, dan obyektif, tidak peduli di jenjang S1 atau S3. Hanya saja kalau di skripsi S1 biasanya mahasiswa masih berlatih berpikir logis, runtut, dan obyektif. Di S2, kemampuan berpikir seperti itu dicoba digunakan untuk mengatasi persoalan yg memerlukan pandangan yang lebih luas/komprehensif. Pada jenjang S3, kemampuan berpikir logis, runtut, dan obyektif digunakan untuk menemukan hal-hal baru yang lebih fundamental sifatnya. Menurut pengalaman saya, exercise untuk berpikr logis, runtut, dan obyektif benar-benar terasa saat menempuh jenjang S3, karena jika tidak berlatih keras, kebaruan atau novelty yg diinginkan tidak bisa diperoleh (atau sulit sekali). Demikian pendapat saya mas.. :)